Perjuangan Sang Jurnalis di Balik Pemekaran Kabupaten Pangandaran
Pangandaran, News Lidik —Perayaan Milangkala (hari jadi) ke-13 Kabupaten Pangandaran tahun 2025 menjadi momen penuh syukur bagi seluruh masyarakat. Sejak resmi berpisah dari Kabupaten Ciamis, Pangandaran kini tumbuh menjadi daerah otonom yang mandiri dan terus menunjukkan kemajuan di berbagai sektor.
Selama 13 tahun berdiri, Pemerintah Kabupaten Pangandaran telah menorehkan banyak prestasi, baik di bidang pariwisata, pembangunan infrastruktur, maupun tata kelola pemerintahan. Namun di balik keberhasilan tersebut, ada kisah perjuangan yang jarang disorot—yakni kiprah seorang jurnalis yang turut berperan aktif dalam proses panjang pemekaran Pangandaran dari Ciamis.
Adalah Agus Supriatman, yang akrab disapa Agus Kucir, sosok wartawan senior yang sejak awal terlibat dalam perjuangan mewujudkan Pangandaran sebagai kabupaten baru. Saat ditemui awak media, Agus Kucir mengungkapkan rasa bangga dan harunya melihat Pangandaran kini menjadi salah satu kabupaten maju di Jawa Barat.
“Saya bangga menjadi bagian dari warga Pangandaran. Keberhasilan Pangandaran berdiri dan berkembang seperti sekarang adalah kebanggaan bagi kita semua,” ujar Agus Kucir.
Lebih jauh, Agus Kucir menceritakan bahwa perjuangan untuk memekarkan Pangandaran dari Kabupaten Ciamis membutuhkan waktu, tenaga, serta pemikiran dari banyak tokoh masyarakat. Ia menyebut sejumlah nama yang turut berperan penting dalam perjuangan itu, seperti alm. H. Adang Hadari, H.Supratman Andis Sose, Asep Fitri asal Padaherang, dan tokoh-tokoh lainnya.
Sebagai jurnalis, Agus Kucir memiliki peran strategis dalam menyuarakan aspirasi masyarakat melalui pemberitaan di berbagai media. Bersama beberapa rekan Jurnalis saat itu seperti, Surnandi (Alm) dari Koran Pangandaran News, Ia aktif melaporkan setiap perkembangan proses pemekaran hingga akhirnya mendapat respons dari pemerintah pusat, khususnya Komisi II DPR RI yang kala itu dipimpin oleh Kang Agun Gunandjar Sudarsa—tokoh penting yang disebut sebagai “bidan” pemekaran Kabupaten Pangandaran.
“Saya mengikuti seluruh prosesnya, mulai dari obrolan di warung kopi, pembentukan panitia kecil, deklarasi presidium, hingga detik-detik penetapan di DPR RI Jakarta. Semua perjuangan itu saya jalani, bukan hanya lewat tulisan, tapi juga ikut terlibat langsung bersama para tokoh masyarakat,” kenang Agus Kucir.
Ia menambahkan, komunikasi dengan pihak pusat, terutama Kang Agun Gunandjar, terus dilakukan melalui sambungan telepon untuk memastikan setiap perkembangan perjuangan bisa segera direspons.
Kini, setelah lebih dari satu dekade, Kabupaten Pangandaran berhasil menapaki kemajuan pesat dan sejajar dengan kabupaten/kota lain di Indonesia.
“Alhamdulillah, berkat perjuangan bersama seluruh warga dan tokoh Pangandaran, cita-cita untuk menjadi kabupaten akhirnya terwujud. Pangandaran memang kabupaten termuda di Jawa Barat, tapi perkembangannya luar biasa,” tutur Agus Kucir dengan bangga.
Meski demikian, di tengah euforia peringatan Milangkala Pangandaran, Agus Kucir tak menampik ada sedikit rasa haru. Sebagai salah satu pejuang yang ikut berperan dalam sejarah berdirinya kabupaten ini, ia mengaku belum pernah mendapat apresiasi atau sekadar ucapan terima kasih dari pihak pemerintah daerah.
“Tidak apa-apa, saya ikhlas. Yang terpenting Pangandaran sudah maju dan bisa sejajar dengan daerah lain. Itu sudah cukup bagi saya,” pungkas Agus Kucir sambil tersenyum. (Tantri.M) Editor : Herry
